Showing posts with label feminism. Show all posts
Showing posts with label feminism. Show all posts

Wednesday, May 7, 2008

Tentang Irshad Manji

Bila perempuan ingin mendapatkan posisi yang setara dengan laki-laki dan adil, maka salah satu cara yang dapat ditempuh adalah terus berpikir kritis dan menyuarakan pikiran tersebut.

Irshad Manji. Perempuan yang luar biasa. Keberanian dan keteguhannya, sebagai perempuan, untuk menyampaikan suara dan pikirannya patut diacungi jempol. Sebelum saya membaca karyanya, The Trouble With Islam Today: A Muslim's Call for Reform in Her Faith, pujian itu sudah saya sampaikan.

Irshad Manji adalah seorang muslim wanita asal Kanada. Ia dikenal sebagai penulis dan aktivis yang cukup keras mengkritik kelompok Islam radikal dan ulama-ulama yang menafsirkan Al Quran secara kaku.

Hadir di dua kota di Indonesia, Jakarta dan Yogyakarta, pada bulan April lalu untuk meluncurkan buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Perempuan keturunan India dan Mesir itu mengajak untuk membuka kembali pintu ijtihad agar umat Islam dapat mengikuti perubahan pada abad ke-21. Tradisi ijtihad menghasilkan Islam yang berpikir dan bermartabat, yang jejak kejayaan hasil ijtihad itu dapat dilihat pada ilmu pengetahuan di Barat. Irshad mencontohkan, universitas seperti yang dikenal sekarang di Barat berdiri pertama kali di Baghdad pada abad kesembilan.

Untuk bersuara lebih lanjut, tunggu sampai saya selesai membaca bukunya dulu :)

full story »»

Tuesday, April 22, 2008

Realising the Dream of R.A. Kartini: Her Sister's Letters from Colonial Java



Edited and Translated by Joost Coté
Xii+397 pages
ills
ISBN 978 90 6718 313 0
Leiden 2008

Realizing the Dream of Kartini: Her sisters letters from colonial Java presents a unique collection of documents reflecting the lives, attitudes and politics of four Javanese women in the early twentieth century. The letters of Raden Ajeng Kartini, Indonesia’s first feminist, have been a vital testament to her vision since the first selection of them was published in 1911, seven years after Kartini’s death. Now Joost Coté’s translation of her sisters’ letters reveals for the first time the contributions of Roekmini, Kardinah, Kartinah and Soematri in defining and carrying out Kartini’s ideals. With this collection, Coté aims to situate Kartini’s sisters within the more famous Kartini narrative – and indirectly to situate Kartini herself within a broader narrative.
The letters reveal the emotional lives of these modern women and their concerns for the welfare of their husbands and the success of their children in rapidly changing times. While by no means radical nationalists, and not yet extending their horizons to the possibility of an Indonesian nation, these members of a new middle class nevertheless confidently express their belief in their own national identity.
Realizing the Dream of Kartini is essential reading for scholars of Indonesian history, providing documentary evidence of the culture of modern urban Java in the late colonial era and an insight into the ferment of the Indonesian nationalist movement in which these women and their husbands played representative roles.
Joost J. Coté is a senior lecturer in history at Deakin University, Melbourne, Australia. He is the author of On feminism and nationalism; Kartini’s letters to Stella Zeehandelaar and coeditor of Recalling the Indies; Colonial memories and postcolonial identities.
William H. Frederick, author of Visions and Heat: The making of the Indonesian Revolution: “Joost Coté presents what is probably the last of the Kartini-related letters extant a precocious and unique resource. The translations are first class and the editor probably knows more about Kartini and her family than anyone else in the world.”
For further details or to purchase a copy visit the website of the Royal Netherlands Institute of South East Asian Studies

full story »»

Wednesday, March 12, 2008

selamat hari perempuan, selamat berjuang!

8 Maret merupakan Hari Perempuan se dunia. Pertama kali diperingati pada tanggal 11 Maret 1911 di sejumlah negara seperti Jerman, Australia, Denmark dan beberapa negara Eropa lainnya, setelah keluarnya Deklarasi Copenhagen yang menyerukan persatuan kaum perempuan sedunia untuk memperjuangkan persamaan hak perempuan dan anak-anak, untuk pembebasan nasional dan perdamaian. Momentum tersebut terus diperingati tahun demi tahun.

Namun peristiwa peringatan yang paling dikenang sepanjang sejarah Hari Perempuan adalah yang terjadi di Petrograd, Uni Soviet (sekarang St Petersburg, Rusia), yang mencapai puncaknya tanggal 23 Februari (menurut kalender Julian) atau 8 Maret (kalender Gregorian/Masehi). Maka sejak saat itu, hari perempuan sedunia diperingati pada tanggal tersebut.

Lebih dari sejuta perempuan, yang mayoritas bekerja di pabrik-pabrik, turun ke jalan menuntut persamaan hak-hak sipil dan politik, penghapusan diskriminasi, perlakuan kerja yang lebih baik dan gaji yang layak. Usaha para pemilik pabrik menghalangi mereka turun ke jalan dengan mengurung mereka di pabrik-pabrik tidak mematahkan semangat besar untuk mencapai perubahan kondisi kehidupan perempuan yang lebih baik. Mogok kerja dan aksi protes kaum perempuan selama beberapa hari telah menjatuhkan rezim Tsar sebagai sang penguasa yang sangat tidak menghargai perempuan sekaligus mengantarkan Rusia menuju masa transisi zaman feodal menjadi industri.

Dan hingga hari ini, perjuangan ini belumlah usai. Masih banyak hal yang perlu dilakukan kaum perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan anak-anak.

Wahai perempuan, selamat Hari Perempuan. Selamat berjuang!

full story »»