Friday, May 9, 2008

For just a day ..


Aaron Dilderback

full story »»

Wednesday, May 7, 2008

Tentang Irshad Manji

Bila perempuan ingin mendapatkan posisi yang setara dengan laki-laki dan adil, maka salah satu cara yang dapat ditempuh adalah terus berpikir kritis dan menyuarakan pikiran tersebut.

Irshad Manji. Perempuan yang luar biasa. Keberanian dan keteguhannya, sebagai perempuan, untuk menyampaikan suara dan pikirannya patut diacungi jempol. Sebelum saya membaca karyanya, The Trouble With Islam Today: A Muslim's Call for Reform in Her Faith, pujian itu sudah saya sampaikan.

Irshad Manji adalah seorang muslim wanita asal Kanada. Ia dikenal sebagai penulis dan aktivis yang cukup keras mengkritik kelompok Islam radikal dan ulama-ulama yang menafsirkan Al Quran secara kaku.

Hadir di dua kota di Indonesia, Jakarta dan Yogyakarta, pada bulan April lalu untuk meluncurkan buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Perempuan keturunan India dan Mesir itu mengajak untuk membuka kembali pintu ijtihad agar umat Islam dapat mengikuti perubahan pada abad ke-21. Tradisi ijtihad menghasilkan Islam yang berpikir dan bermartabat, yang jejak kejayaan hasil ijtihad itu dapat dilihat pada ilmu pengetahuan di Barat. Irshad mencontohkan, universitas seperti yang dikenal sekarang di Barat berdiri pertama kali di Baghdad pada abad kesembilan.

Untuk bersuara lebih lanjut, tunggu sampai saya selesai membaca bukunya dulu :)

full story »»

Friday, May 2, 2008

Tuberkulosis : Pria lebih berpeluang terkena

Sumber : Kompas

Kaum lelaki harus lebih waspada terhadap penyakit paru-paru, khususnya tuberkulosis atau TB paru. Berdasarkan data statistik dan hasil penelitian, mereka yang berjenis kelamin pria ternyata rentan terhadap penyakit ini. Hal itu dibuktikan dengan persentase penderita TB yang didominasi oleh laki-laki. Dari data Departemen Kesehatan, tahun 2005 pria yang menderita TB paru berjumlah 93.114 orang—hampir 60 persen penderita TB paru di seluruh Indonesia. Laki-laki penderita TB di kelompok usia produktif hampir 21.000 orang, sementara penderita perempuan 16.000 orang. Hampir di seluruh kelompok usia yang terdata, laki-laki mendominasi jumlah penderita TB, kecuali di kelompok usia termuda yaitu 0-14 tahun, perempuan lebih banyak terjangkit.

Menurut sebuah studi yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar, di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kassi-Kassi, Kota Makassar, tahun 2003 ditemukan, pada responden laki-laki hampir 42 persen menderita TB, sedangkan perempuan hanya 15 persen yang terkena. Hasil penelitian tersebut juga menyatakan, terdapat hubungan antara jenis kelamin dan kejadian TB paru. Artinya, jenis kelamin cukup berperan dalam menentukan apakah seseorang lebih rentan terkena TB atau tidak. Jumlah penderita pria yang lebih banyak diduga disebabkan mobilitas dan aktivitasnya yang lebih tinggi daripada perempuan.Dengan faktor tersebut, pria diyakini lebih mudah terpapar bakteri penyebab penyakit TB.

Rentannya laki-laki terhadap paparan bakteri tuberkulosis ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), negara-negara di Asia Tenggara lain juga memiliki kasus yang sama, yaitu TB paru lebih banyak dialami kaum pria. Thailand, misalnya, menurut data WHO tahun 2006 memiliki 29.081 kasus baru TB positif, 70 persennya diderita oleh laki-laki. Demikian pula Myanmar, 66 persen penderita TB di negara ini adalah kaum pria. Persamaan lain antara Indonesia, Thailand, dan Myanmar adalah penderita TB perempuan mendominasi pada kelompok usia 0-14 tahun. Perempuan di kategori usia ini lebih banyak terpapar TB dengan asumsi mereka adalah anak-anak yang berhubungan dekat dengan penderita tuberkulosis dewasa.

Faktor risiko

Beberapa hal yang dapat menjadi faktor risiko pada penyakit tuberkulosis di antaranya adalah orang yang terinfeksi virus HIV, memiliki status sosial ekonomi tergolong rendah, alkoholik, tunawisma, kondisi tempat tinggal yang buruk, pekerja medis, dan lain-lain. Di Indonesia, penyakit TB termasuk pembunuh utama penduduk, selain penyakit jantung dan saluran pernapasan.

WHO memperkirakan, pada tahun 2005 angka terbesar kasus baru penyakit TB muncul di wilayah Asia Tenggara, yang mencapai sekitar 34 persen dari total kasus TB seluruh dunia. Indonesia adalah negara ketiga dengan angka kasus TB baru terbesar setelah India dan China. Adapun Afrika kasus kematian akibat TB terbesar di dunia, 74 per 100.000 penduduk, angka ini 31 per 100.000 penduduk Asia Tenggara.

Rendahnya kekebalan alami tubuh akibat virus ini mengakibatkan mudahnya penderita HIV terjangkiti kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit TB dan sebaliknya, misalnya, China dalam sistem pengawasan nasional belum memiliki sistem untuk mencegah pasien TB terjangkit virus HIV—berlaku di hampir seluruh negara, khususnya Asia.

Selain risiko penyakit TB dari virus HIV, China dengan jumlah penduduk 1,2 miliar jiwa—35 persennya adalah perokok. Di antara para perokok yang berjumlah sekitar 450 juta jiwa, 67 persennya adalah laki-laki. China adalah negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia.

TB di Indonesia

Sebagai negara terbesar ketiga di dunia dalam jumlah pengidap TB, Indonesia masih dihadapkan pada tingginya angka penularan yang terjadi. Pada tahun 2005 diperkirakan terjadi 296.381 kasus menular. Kasus menular terjadi paling banyak di Provinsi Jawa Barat, disusul Jawa Timur. Dua wilayah ini juga menjadi provinsi dengan jumlah penemuan kasus baru TB paru batang tahan asam (BTA) positif terbesar.

Khusus untuk penemuan kasus baru TB paru BTA positif pada laki-laki, jumlah tiga terbesar adalah mereka yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Jika rata-rata penemuan kasus baru di provinsi lain berkisar di angka 300 hingga 5.000-an kasus, di tiga wilayah itu bisa ditemukan 9.000-15.000 kasus baru TB paru khusus penderita laki-laki.

Tentang berbagai penyebab yang diasumsikan sulit dibuktikan karena keterbatasan data sekunder yang dapat digunakan. Dengan memanfaatkan data publikasi Departemen Kesehatan, pengujian terhadap kasus-kasus TB hanya dapat menggunakan lima variabel yang diasumsikan berkaitan dengan penyakit TB. Kelimanya adalah indeks pembangunan manusia (IPM), jumlah penderita AIDS, jumlah puskesmas, jumlah pekerja medis rumah sakit, dan jumlah peserta jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK).

Berdasarkan uji statistik menggunakan model analisis regresi linier berganda dihasilkan kesimpulan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah kasus baru penderita TB laki-laki adalah jumlah puskesmas. Selain jumlah puskesmas, variabel lain yang diujikan adalah IPM, jumlah penderita AIDS, jumlah pekerja medis, dan jumlah peserta JPK. Variabel jumlah puskesmas terbukti signifikan untuk memperkirakan jumlah kasus baru TB paru laki-laki.

Penelusuran terhadap data jumlah puskesmas di seluruh provinsi ditemukan bahwa jumlah puskesmas terbanyak ada di tiga wilayah dengan kasus TB-nya terbesar di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Namun, jumlah puskesmas yang cukup besar ini tidak diimbangi dengan proporsi jumlah penduduk. Berdasarkan perbandingan jumlah puskesmas terhadap 100.000 penduduk, rasio terendah kedua, ketiga, dan keempat diisi oleh ketiga provinsi di atas.

Artikel terkait:

full story »»

Monday, April 28, 2008

Earth Day & me ..



My recent avatar :)

Avatar ini terinspirasi dari sini.
Penggambaran bentuk wajah dan rambut memang (hampir) begitu :D
Dominasi warna hijau, gambar bumi di sudut kanan atas, dan simbol ‘recycle’ yang tertato di pundak sebagai dukungan Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April.
Sejarah tentang peringatan Hari Bumi dapat dilihat di sini.

reduce, reuse & recycle, green lifestyle.. save our planet!!

full story »»

Tuesday, April 22, 2008

Realising the Dream of R.A. Kartini: Her Sister's Letters from Colonial Java



Edited and Translated by Joost Coté
Xii+397 pages
ills
ISBN 978 90 6718 313 0
Leiden 2008

Realizing the Dream of Kartini: Her sisters letters from colonial Java presents a unique collection of documents reflecting the lives, attitudes and politics of four Javanese women in the early twentieth century. The letters of Raden Ajeng Kartini, Indonesia’s first feminist, have been a vital testament to her vision since the first selection of them was published in 1911, seven years after Kartini’s death. Now Joost Coté’s translation of her sisters’ letters reveals for the first time the contributions of Roekmini, Kardinah, Kartinah and Soematri in defining and carrying out Kartini’s ideals. With this collection, Coté aims to situate Kartini’s sisters within the more famous Kartini narrative – and indirectly to situate Kartini herself within a broader narrative.
The letters reveal the emotional lives of these modern women and their concerns for the welfare of their husbands and the success of their children in rapidly changing times. While by no means radical nationalists, and not yet extending their horizons to the possibility of an Indonesian nation, these members of a new middle class nevertheless confidently express their belief in their own national identity.
Realizing the Dream of Kartini is essential reading for scholars of Indonesian history, providing documentary evidence of the culture of modern urban Java in the late colonial era and an insight into the ferment of the Indonesian nationalist movement in which these women and their husbands played representative roles.
Joost J. Coté is a senior lecturer in history at Deakin University, Melbourne, Australia. He is the author of On feminism and nationalism; Kartini’s letters to Stella Zeehandelaar and coeditor of Recalling the Indies; Colonial memories and postcolonial identities.
William H. Frederick, author of Visions and Heat: The making of the Indonesian Revolution: “Joost Coté presents what is probably the last of the Kartini-related letters extant a precocious and unique resource. The translations are first class and the editor probably knows more about Kartini and her family than anyone else in the world.”
For further details or to purchase a copy visit the website of the Royal Netherlands Institute of South East Asian Studies

full story »»

Monday, April 21, 2008

Tentang Tuberkulosis


21 April. Hari Kartini. Lalu mengapa postingnya tidak ada kaitannya dengan perayaan itu? Tapi justru tentang Tuberkulosis? Tentang penyakit?

Hmm.. tunggu dulu. Menurut saya, semangat yang disebarkan oleh Kartini, Ibu kita tercinta itu, pada intinya adalah upaya agar kita, kaum perempuan, lebih “melek”. Melek terhadap kebutuhan pendidikan, melek terhadap kesetaraan dalam berbagai bidang, melek terhadap isu dan masalah sosial.

Nah, penyakit yang satu ini adalah salah satu masalah sosial yang harus mendapat perhatian serius. Selama ini banyak orang malu membicarakan penyakit Tuberkulosis karena menganggap penyakit ini adalah penyakit dari golongan masyarakat tertentu saja. Padahal Indonesia saat ini masih menduduki urutan ketiga setelah India dan Cina dalam hal jumlah penderita penyakit tuberkulosis (TBC) paru menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada peringatan World TB Day atau Hari TB Sedunia tanggal 24 Maret lalu. Di Indonesia jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun terus meningkat. Saat ini, penyakit TB merupakan penyebab kematian no 2. Dari setiap 100 penduduk Indonesia, 3-6 orang menderita TB paru. Penyakit TBC ini merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan berakibat pada dampak sosial yang besar.

TBC atau dikenal juga dengan Tuberculosa atau Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang yang berkoloni pada media pembiakan bakteri. Meskipun kuman TBC dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia, namun kuman ini paling sering menyerang organ paru. Infeksi primer terjadi pada individu yang sebelumya belum memiliki kekebalan tubuh terhadap basil tersebut. Tuberculosa Paru adalah penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja.

Lebih jauh tentang TB dapat ditelusur antara lain dalam situs-situs berikut.

http://www.cdc.gov 
http://www.nlm.nih.gov 
http://www.lungusa.org
http://kidshealth.org
http://www.sehatgroup.web.id 
http://www.dinkes-diy.org 
http://www.health.nsw.gov.au

Nah, disinilah kaum perempuan dapat mengambil peran, mengingat akses dalam hubungan sosial lebih luas dan lebih luwes, misalnya dalam kegiatan Dasa Wisma atau pertemuan PKK dan samacamnya.

Selamat Hari Kartini..

full story »»

Wednesday, April 16, 2008

Tomato : a fruit or a vegetable?


The world really has two different meanings for the word fruit. There is the use of the word when you go to the grocery store, and then there's the use of the word by a botanist.

In the grocery store, we generally understand a fruit to be a natural plant product that is sweet, and a vegetable to be a natural plant product that is not sweet. In this standard definition, apples, strawberries, grapes and bananas are all fruits, while green beans, tomatoes, squash and potatoes are all vegetables.

Technically, however, this layman's definition is a bit off. The Encyclopedia Britannica sums it up like this:

    Fruit - in its strict botanical sense, the fleshy or dry ripened ovary of a plant, enclosing the seed or seeds. Thus, apricots, bananas, and grapes, as well as bean pods, corn grains, tomatoes, cucumbers, and (in their shells) acorns and almonds, are all technically fruits.
This definition of fruit is very broad, and encompasses almost everything that contains seeds.

Vegetables, then, are everything that's left. This includes:

  • Root crops like potatoes, carrots and turnips
  • Bulbs like onions and garlic
  • Stems like asparagus
  • Leaves like lettuce and cabbage
  • Flowers like broccoli and cauliflower
In other words, things that do not contain seeds are vegetables, in the technical sense. Everything else is a fruit.
But... In 1887, the tomato reached the U.S. Supreme Court. The ruling? Vegetable. So legally, it seems, the tomato is not a fruit.

Pic taken from here

full story »»